Gila?

Add Comment
Gila?
Saat bertemu di halaman rawat inap Puskesmas Alabio, beliau ajak saya ngobrol. Katanya resiko hidup punya banyak kenalan, tiap hari jenguk orang yang sakit. Saat direspon, kayaknya agak roaming gimana gitu...

Di sebagian sisi halaman parkir ada ibu-ibu salah satu tetangga ranjang kami memberi isyarat. Beliau menempelkan jari telunjuk di alis. Isyarat yang sudah lama tidak pernah saya lihat. Yang menggambarkan, bahkan orang yang dimaksud sedang "miring", urat syaraf otaknya putus, agak sinting atai setengah gila.

Dan benar. Menurut cerita istri, beliau ini terkenal di kampung sebagai orang "gila" yang hebat mengaji.

Terlihat dari sepeda motornya yang bersih mengkilat tidak menunjukkan tanda-tanda kegilaan. Setidaknya, saat mendengarkan suara beliau sebelum adzan subuh dikumandangkan. Benar! Beliau mengaji. Dan dalam beberapa kesempatan juga adzan.

"Ashsholaatu Khayrum min annawm..." Suara cemprengnya menyeru kami untuk segera bangun dan menuju masjid.

Sebelum status ini saya post, dalam sesi salam-salaman saya bersalaman dengan beliau. Biasa saja tuh. Bahkan di seberang sana, beliau dengan membaca Al quran. Aktifitas yang sedikit orang dari jamaah masjid ini yang masih melakukan.

Sederhananya, mana bisa kita sebut orang yang dengan sadarnya pergi ke masjid, mengaji dan adzan memanggil masyarakat untuk shalat subuh ke masjid sebagai orang gila?

Atau. Apakah dunia ini sebegitu terbaliknya? Sehingga orang-orang sesadar beliau harus mendapat stigma negatif semacam ini?

Teringat saya akan cerita nabi Nuh yang diperintah Allah untuk membangun bahtera di atas gunung. Sebagian besar orang menganggapnya gila. Bahkan anak dan istrinya sendiri tidak mau beriman dan ikut-ikutan mencemooh.

#JustIsMyMind
#Al4810
#Solusilangit

Di antara cerahnya langit di pagi Alabio
240317

Hendra Abutsman

Lidah kaku Mengucap La Hawla Walaa Quwwata

Add Comment
Lidah kaku Mengucap La Hawla Walaa Quwwata


Berkali-kali dibenarkan. Tidak bisa juga. Beliau tetap menggunakan "ka" untuk "ha". Contohnya saat mengucapkan الحمد الله رب العلمين  beliau bacanya "Alkamdulillahi rabil ngalamiin". Lidahnya kaku. Meski pada sebagian orang jawa yang benar-benar seperti kasus beliau ini, ada saja perubahan setelah belajar.

Namun, belajar membaca Al Qur'an sesuai dengan pelafalan huruf yang benar jika sudah tua ya agak susah. Sepertinya default bawaan lahir lidahnya begitu. Seperti orang di bangsa tertentu yang tidak bisa mengucap "ق" dengan benar sehingga lebih terdengar seperti "gha" daripada "qo".

Seperti kami. Orang Banjar yang tinggal di pesisir Banjarmasin, kabupaten Banjar atau seputar Amuntai, lidah kami default dengan "r" yang 'betagar' atau 'r' yang tidak sepatutnya disebutkan. Beberapa dari kami kemudian belajar "errrrrrrrrrrr" atau berlatih dengan "ularrr melingkarrr di pinggirrrr pagarrrr pak ummarrr..." Dan seterusnya, dan seterusnya. Di dalam bacaan Al quran pun begitu. Harus belajar ikhlas dan mendalam kiranya untuk bisa mengubah bacaan فيه dari dibaca "pihi" menjadi "fiihi".

Sederhananya. Dalam mengucapkan kalimat secara benar dan fasih dalam bahasa Arab dan Al Qur'an orang² dengan lidah pada suku bangsa tertentu harus belajar lebih giat agar tidak keliru paham saat orang lain mendengarkan.

Walau begitu. Jika memang di masa kecil kita belajarnya belum tuntas. Dan lidah rasanya benar-benar kaku, ya mau bagaimana lagi? Sebagian orang harus maklum bahwa tidak semua orang bisa mengubah. Dan tidak lantas membuat kita yang mampu lalu mentertawakan ketidakbisaaan mereka.

Ada teman, yang karena kecadelannya dalam menyebutkan huruf "r" akhirnya berhenti jadi penyiar karena tidak tahan terhadap celaan yang muncul di diudara. Baik melalui SMS ataupun telpon langsung ke radio. Mulai dari yang blak-blakan sampai yang terselubung saran.

Misalnya ada tokoh penting di sebuah negeri yang sulit ngomong lantas dan benar sebuah kalimat dalam bahasa Arab, maka wajar saja. Karena mungkin lidahnya kaku. Dan lingkungan tempat tinggalnya tidak memungkinkan untuk belajar tuntas. Sehingga kalimat لاحول ولاقوّت الاب الله jadi aneh terdengar di telinga kita sewaktu beliau melafalkannya.

Jadi, maklum saja.

Alabio, 020317

Abutsman

Wahsyi, From Zero to Hero

Add Comment
Wahsyi, From Zero to Hero
Terceritalah seorang Budak Ethiopia. Namanya Wahsyi bin Harb. Oleh Hindun dia Dijanjikan kebebasan jika mampu membalaskan dendam kematian ayahnya pada salah satu dari ketiga orang. Muhammad shallahu'alayhiwassalam, Ali bin Abi Thalib dan Hamzah bin Abdul Muthalib.

Di saat peperangan Uhud, dua nama di atas berada jauh dan sulit untuk dibunuh. Sedang Hamzah berperang seperti singa (kemudian beliau dijuluki اسد الله singa Allah). Dalam kesibukan menghadapi lawan itulah paman Nabi itu terlihat lengah dan tak terlalu memperhatiakan sekeliling.

Di situlah Wahsyi melihat kesempatan. Dengan keahliannya, sebagai seorang Ethiopian, Wahsyi kemudian melemparkan lembing. Lembing tepat mengenai pinggang Hamzah dan tembus hingga di antara kedua kakinya. Kekuatan dalam hatinya membuat Hamzah masih ingin melawan. Namun apa daya sakit yang tak Terperi itu lebih kuat sehingga membuatnya tumbang.

Dan episode selanjutnya dari peristiwa terbunuhnya Hamzah ini kita tahu bersama. Hindun membelah dada Hamzah kemudian memakan jantungnya. Kondisi di mana membuat Rosulullah sedih atas kematian orang yang dicintainya. Yang selama ini menjadi pelindung dakwah Islam.

Secara epik, kematian Hamzah ini dicerita dalam sebuah nasyid yang sedih berjudul Hamzah Asadullah yang dinyanyikan oleh inteam.

***
Jika hanya sampai di titik ini, boleh jadi kita akan berkesimpulan dan menghujat Wahsyi. Dia membunuh orang terbaik. Hamzah bin Abdul Muthallib.

Namun ceritanya tidak berakhir di sini. Setelah tersiar kabar pengampunan nabi usai futuuhat Makkah, wahsyi sempat lari ke Tha'if. Lalu kemudian pada satu momen akhirnya Wahsyi menemui nabi dan mengikrarkan syahadat sebagai titik tolak KeIslamannya.

Walau begitu. Keberadaanya tidak serta-merta dapat menghilangkan luka di hati nabi. Meski beliau sudah memaafkan.

Baru, setelah masa Abu Bakar. Dalam Perang Yamamah, Wahsyi menjadi pahlawan. Dia membunuh seburuk-buruk manusia. Dialah Musailammah Al kadzdzab. Seorang yang mengaku nabi.

Musailamah sendiri terbunuh dengan lembing yang sama dengan lembing yang membunuh Hamzah.

***

Cerita ini bukan cerita from zero to Hero. Tapi cerita soal perjalanan hidup manusia yang dapat jadi pelajaran untuk kita semua. Bahwa, apapun keburukan yang dia lakukan dimasa kini, tidaklah menunjukkan akhir dari hidupnya akan seperti itu.

Karena manusia bisa berubah.

Kita mungkin terlalu sering menggambarkan sosok Umar bin Khathab sebagai cerita perubahan. Transformasi manusia yang bertolak belakang sisi hidupnya. Namun cerita Wahsyi bin Harb ini juga patut untuk dipehatikan.

Banjarbaru.
Menjelang tengah malam tak bisa tidur.
27.02.17

Hendra Abutsman

Menyolatkan pendukung "nganu"

Add Comment
Menyolatkan pendukung "nganu"
Setahu saya, Rosulullah tidak ikut menyolatkan Abdullah bin Ubay bin Salul yang merupakan dedengkot kaum Munafik. Namun beliau juga tidak melarang para sahabat yang menyolatkannya karena ketidaktahuan mereka atas status munafik Abdullah bin Ubay bin Salul.

Ketidaktahuan akan status seseorang sebagai munafik pun adalah perkara yang wajar. Walaupun ada seorang sahabat nabi bernama Huzaifah bin Al Yaman yang memiliki ilmu rahasia untuk mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Sehingga Umar bin Khathab bisa yakin seseorang itu munafik atau tidak dengan mengikuti Huzaifah.

Memang ada ciri-ciri seorang itu bisa disebut sebagai munafik di dalam nash. Namun apakah kita bisa yakin, misalnya ketika dia berjanji untuk datang pada jam 8 namun datang jam 9, sebagai orang munafik misalnya? Atau dalam tataran yang lebih berat. Tiga ciri² yang telah sama kita ketahui tersebut harusnya menjadi semacam self correcrtion. Muhasabah kepada diri sendiri, apakah diri kita termasuk munafik atau tidak.

Saya sendiri kemudian tidak sepakat dengan adanya spanduk di masjid yang menyatakan tidak akan menyolatkan pendukung "nganu". Apakah pembuat spanduk atau (mungkin) pengurus masjid itu yakin, bahwa semua pendukung "nganu" adalah orang munafik? Bagaimana kalau bukan? Semisal di sebuah kampung bersepakat tidak menyelenggarakan jenazahnya melebihi waktu yang ditentukan, apa gak jadi dosa seluruh kaum muslimin karena tak terlaksananya fardhu kifayah tersebut?

Dalam fase tertentu. Kita tidak tahu perjalanan akhir hidup seorang manusia. Tidak pula bisa mengukur baik-buruknya seseorang hanya dari sekali jumpa.

Hemat saya. Kita boleh tidak suka. Tapi tidak suka lah dengan perilakunya. Bukan dengan orangnya. Karena orang bisa berubah. Seseorang bisa saja buruk gaya bahasa saat ini. Besok kan kita gak tau?

Kita benci sikap dan perilaku buruk, karena perilaku buruk itulah yang menjebloskan manusia ke dalam neraka.

Karenanya. Bencilah seseorang sekadarnya saja. Karena sikapnya. Demikian pulalah cintai seseorang sekadarnya saja. Karena sikapnya. Atau yang lebih agung lagi. Cinta dan benci kita karena Allah.

#SolusiLangit

Molte Grazie Claudio

Add Comment
Tak Ada Yang Bisa Menghapus Sejarah

Kemenangannya tahun lalu bak cerita dongeng saja. Maklum, target menghindari zona Degradasi saja ternyata berbuah piala sebagai kampiun Liga Premier Inggris. Pelatih yang dijuluki The Tinkerman itu, setelah sembilan bulan musim ini dipecat oleh manajemen Leicester. Karena tak kunjung bisa mengangkat performa tim yang hanya berjarak satu poin sama di zona degradasi.

Walaupun pencapaiannya musim ini tidak bisa dibilang jelek-jelek amat. Karena di Champions League, masih ada asa untuk menembus babak selanjutnya meskipun kalah 2-1 di kandang lawan. Di mana ini merupakan kompetisi tertinggi Eropa pertama bagi Leicester.

Namun, seperti banyak kasus lainnya, tidak semua orang bisa kita puaskan. Tidak semua orang kita bisa paksa untuk suka dan setuju kepada kita. PHK terhadap Claudio Ranieri tak dapat terelakkan.

Satu pesan Jose Mourinho kepada Ranieri, "Tak ada yang bisa menghapus sejarah". Karena biar bagaimanapun ditutupi, sejarah akan tetap tercatat. Tidak hanya dalam bentuk tulisan, namun kenangan yang terpatri kuat di dalam hati.

Saya bukan penggemar Leicester di Liga Inggris. Namun, saya angkat topi pada pencapaian mereka di musim lalu. Musim ini barangkali semacam shock therapy nan ujian "mental juara" para pemain Leicester. Karena mempertahankan gelar juara, jauh lebih sulit dibanding mendapatkannya.

Seperti mudahnya orang membuka bisnis, namun tidak semua bisa dengan tanpa hambatan mempertahankan dan menumbuh kembangkan bisnisnya jadi lebih besar. Karena selalu ada badai yang lebih kuat, saat kapal makin jauh berlayar.

Seperti Claudio Ranieri, yang telah menghabiskan jatah gagalnya karena tak pernah jadi juara. Dia membuktikan, bahwa menjadi juara bisa dengan segala cara. Meskipun, kau harus berhadapan dengan raksasa. Karena kecilnya tubuh David, tak berarti mudah ditaklukkan oleh Goliath.

Molte Grazie Claudio. Kamu menginspirasi kami.

Bisnis Tanpa Modal, Bisa?

Add Comment
Bisnis Tanpa Modal, Bisa?
Saat hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin 'auf meninggalkan hartanya di Mekkah. Sehingga, untuk memulai bisnis di Madinah dia harus dari nol lagi.

Salah seorang sahabat kaum Anshar lalu menawarinya sebidang tanah dan seorang istri (untuk diceraikan lalu dinikahi Abdurrahman) tapi dia menolaknya dengan halus. Sembari berazam akan meminang seorang gadis Madinah dengan emas seberat kurma.

Ringkas cerita. Saat itu Abdurrahman memulai Bisnis dengan datang ke pasar. Dia cari orang jualan unta untuk kemudian dijual kembali. Pada awalnya, hanya membantu menjual unta untuk mendapatkan fee penjualan. Hingga terkumpul uang untuk membeli seekor unta lalu dia jual sendiri.

Menariknya, saat sudah mampu menjual sendiri unta. Abdurrahman malah menjual unta tersebut dengan harga modal. Tentu saja laris manis. Karena orang-orang yang sudah tahu harga pasaran unta pasti akan memilih membeli kepada Abdurrahman bin Auf.

Lha... Kalau jual dengan harga modal, di mana untungnya? Kerja bakti kan gitu?

Ternyata. Abdurrahman juga menjual tali kekang. Di mana saat dia menjual unta, ditawarkannya pula tali kekang beraneka warna dan rupa kepada pembeli tersebut. Dan benar saja, karena dagangan untanya laris manis demikian pulalah dengan tali kekangnya. Bahasa kami, biar kalah di "Acan" biar menang di "asam".

Dan kabarnya, beliau tidak pernah menolak untung yang sedikit dan bermain jual beli cash. Tidak kredit.

Dan kita tahu, sosok Abdurrahman bin Auf ini dikenal sebagai seorang pebisnis bertangan emas. Apa aja yang dijual laku. Kekayaannya melimpah sampai-sampai kabarnya masuk surga telat karena saking banyaknya harta yang harus dipertanggungjawabkannya.

Pelajaran moral,
1. Abdurrahman berbisnis tanpa modal (uang) karena dia sadar, dirinya sendiri adalah modal terbesar yang diberikan Allah
2. Abdurrahman pandai sekali membuat "kolam". Mencari target market yang pas untuk berjualan pelana unta dengan menjual unta menggunakan harga modal.
3. Kemampuan menjual adalah kemampuan dasar yang wajib dimiliki oleh seorang pebisnis. Tanpa itu, sulit rasanya untuk bisa berkembang. Walau, produk kita bagus, tapi kalau tidak bisa menjual ya percuma saja.
4. Jangan tergiur dengan hitung-hitungan profit. Kalau profit satu barang sedikit, tidak mengapa. Asal faktor kalinya banyak. Budayakan pula untuk cash basic bisnis.

Cerita ini memberi pelajaran secara pribadi kepada saya. Bahwa, kalau mau bisnis coblah ikuti prototipe yang memang sudah teruji. Seperti saat saya ingin punya bisnis properti. Saya belajar dengan menjual kavling. Dari Kavling murah 8 jutaan di Liang Anggang, 50-jutaan di cempaka dan perumahan syariah 180jt di golf.

Makin sering jualan. Sering klosing, secara tidak langsung akan mengasah intuisi bisnis saya secara pribadi. Dan saya sih bilang ke diri sendiri: mustahil dapat memulai bisnis karena hanya ingin gaya-gayaan saja disebut sebagai pengusaha. Seperti apa yang terjadi dulu saat saya memulai bisnis sejak masih kuliah. Tidak mengapa jika baru memulai di usia 30-an. Gak dosa koq kalau jadi karyawan.

Betul opo betul?

Banjarbaru, 22 Februari 2017
Usai diposting di akun Facebook saya: Hendra abtusman

Labels

Catatan (80) Inspirasi (35) Opini (18) Marketing (17) bisnis (16) Kritik (14) Puisi (10) Kuliner (9) Teknologi (9) Properti (6) Download (4) Resensi (4)