Menyolatkan pendukung "nganu"

Add Comment
Menyolatkan pendukung "nganu"
Setahu saya, Rosulullah tidak ikut menyolatkan Abdullah bin Ubay bin Salul yang merupakan dedengkot kaum Munafik. Namun beliau juga tidak melarang para sahabat yang menyolatkannya karena ketidaktahuan mereka atas status munafik Abdullah bin Ubay bin Salul.

Ketidaktahuan akan status seseorang sebagai munafik pun adalah perkara yang wajar. Walaupun ada seorang sahabat nabi bernama Huzaifah bin Al Yaman yang memiliki ilmu rahasia untuk mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Sehingga Umar bin Khathab bisa yakin seseorang itu munafik atau tidak dengan mengikuti Huzaifah.

Memang ada ciri-ciri seorang itu bisa disebut sebagai munafik di dalam nash. Namun apakah kita bisa yakin, misalnya ketika dia berjanji untuk datang pada jam 8 namun datang jam 9, sebagai orang munafik misalnya? Atau dalam tataran yang lebih berat. Tiga ciri² yang telah sama kita ketahui tersebut harusnya menjadi semacam self correcrtion. Muhasabah kepada diri sendiri, apakah diri kita termasuk munafik atau tidak.

Saya sendiri kemudian tidak sepakat dengan adanya spanduk di masjid yang menyatakan tidak akan menyolatkan pendukung "nganu". Apakah pembuat spanduk atau (mungkin) pengurus masjid itu yakin, bahwa semua pendukung "nganu" adalah orang munafik? Bagaimana kalau bukan? Semisal di sebuah kampung bersepakat tidak menyelenggarakan jenazahnya melebihi waktu yang ditentukan, apa gak jadi dosa seluruh kaum muslimin karena tak terlaksananya fardhu kifayah tersebut?

Dalam fase tertentu. Kita tidak tahu perjalanan akhir hidup seorang manusia. Tidak pula bisa mengukur baik-buruknya seseorang hanya dari sekali jumpa.

Hemat saya. Kita boleh tidak suka. Tapi tidak suka lah dengan perilakunya. Bukan dengan orangnya. Karena orang bisa berubah. Seseorang bisa saja buruk gaya bahasa saat ini. Besok kan kita gak tau?

Kita benci sikap dan perilaku buruk, karena perilaku buruk itulah yang menjebloskan manusia ke dalam neraka.

Karenanya. Bencilah seseorang sekadarnya saja. Karena sikapnya. Demikian pulalah cintai seseorang sekadarnya saja. Karena sikapnya. Atau yang lebih agung lagi. Cinta dan benci kita karena Allah.

#SolusiLangit

Molte Grazie Claudio

Add Comment
Tak Ada Yang Bisa Menghapus Sejarah

Kemenangannya tahun lalu bak cerita dongeng saja. Maklum, target menghindari zona Degradasi saja ternyata berbuah piala sebagai kampiun Liga Premier Inggris. Pelatih yang dijuluki The Tinkerman itu, setelah sembilan bulan musim ini dipecat oleh manajemen Leicester. Karena tak kunjung bisa mengangkat performa tim yang hanya berjarak satu poin sama di zona degradasi.

Walaupun pencapaiannya musim ini tidak bisa dibilang jelek-jelek amat. Karena di Champions League, masih ada asa untuk menembus babak selanjutnya meskipun kalah 2-1 di kandang lawan. Di mana ini merupakan kompetisi tertinggi Eropa pertama bagi Leicester.

Namun, seperti banyak kasus lainnya, tidak semua orang bisa kita puaskan. Tidak semua orang kita bisa paksa untuk suka dan setuju kepada kita. PHK terhadap Claudio Ranieri tak dapat terelakkan.

Satu pesan Jose Mourinho kepada Ranieri, "Tak ada yang bisa menghapus sejarah". Karena biar bagaimanapun ditutupi, sejarah akan tetap tercatat. Tidak hanya dalam bentuk tulisan, namun kenangan yang terpatri kuat di dalam hati.

Saya bukan penggemar Leicester di Liga Inggris. Namun, saya angkat topi pada pencapaian mereka di musim lalu. Musim ini barangkali semacam shock therapy nan ujian "mental juara" para pemain Leicester. Karena mempertahankan gelar juara, jauh lebih sulit dibanding mendapatkannya.

Seperti mudahnya orang membuka bisnis, namun tidak semua bisa dengan tanpa hambatan mempertahankan dan menumbuh kembangkan bisnisnya jadi lebih besar. Karena selalu ada badai yang lebih kuat, saat kapal makin jauh berlayar.

Seperti Claudio Ranieri, yang telah menghabiskan jatah gagalnya karena tak pernah jadi juara. Dia membuktikan, bahwa menjadi juara bisa dengan segala cara. Meskipun, kau harus berhadapan dengan raksasa. Karena kecilnya tubuh David, tak berarti mudah ditaklukkan oleh Goliath.

Molte Grazie Claudio. Kamu menginspirasi kami.

Bisnis Tanpa Modal, Bisa?

Add Comment
Bisnis Tanpa Modal, Bisa?
Saat hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin 'auf meninggalkan hartanya di Mekkah. Sehingga, untuk memulai bisnis di Madinah dia harus dari nol lagi.

Salah seorang sahabat kaum Anshar lalu menawarinya sebidang tanah dan seorang istri (untuk diceraikan lalu dinikahi Abdurrahman) tapi dia menolaknya dengan halus. Sembari berazam akan meminang seorang gadis Madinah dengan emas seberat kurma.

Ringkas cerita. Saat itu Abdurrahman memulai Bisnis dengan datang ke pasar. Dia cari orang jualan unta untuk kemudian dijual kembali. Pada awalnya, hanya membantu menjual unta untuk mendapatkan fee penjualan. Hingga terkumpul uang untuk membeli seekor unta lalu dia jual sendiri.

Menariknya, saat sudah mampu menjual sendiri unta. Abdurrahman malah menjual unta tersebut dengan harga modal. Tentu saja laris manis. Karena orang-orang yang sudah tahu harga pasaran unta pasti akan memilih membeli kepada Abdurrahman bin Auf.

Lha... Kalau jual dengan harga modal, di mana untungnya? Kerja bakti kan gitu?

Ternyata. Abdurrahman juga menjual tali kekang. Di mana saat dia menjual unta, ditawarkannya pula tali kekang beraneka warna dan rupa kepada pembeli tersebut. Dan benar saja, karena dagangan untanya laris manis demikian pulalah dengan tali kekangnya. Bahasa kami, biar kalah di "Acan" biar menang di "asam".

Dan kabarnya, beliau tidak pernah menolak untung yang sedikit dan bermain jual beli cash. Tidak kredit.

Dan kita tahu, sosok Abdurrahman bin Auf ini dikenal sebagai seorang pebisnis bertangan emas. Apa aja yang dijual laku. Kekayaannya melimpah sampai-sampai kabarnya masuk surga telat karena saking banyaknya harta yang harus dipertanggungjawabkannya.

Pelajaran moral,
1. Abdurrahman berbisnis tanpa modal (uang) karena dia sadar, dirinya sendiri adalah modal terbesar yang diberikan Allah
2. Abdurrahman pandai sekali membuat "kolam". Mencari target market yang pas untuk berjualan pelana unta dengan menjual unta menggunakan harga modal.
3. Kemampuan menjual adalah kemampuan dasar yang wajib dimiliki oleh seorang pebisnis. Tanpa itu, sulit rasanya untuk bisa berkembang. Walau, produk kita bagus, tapi kalau tidak bisa menjual ya percuma saja.
4. Jangan tergiur dengan hitung-hitungan profit. Kalau profit satu barang sedikit, tidak mengapa. Asal faktor kalinya banyak. Budayakan pula untuk cash basic bisnis.

Cerita ini memberi pelajaran secara pribadi kepada saya. Bahwa, kalau mau bisnis coblah ikuti prototipe yang memang sudah teruji. Seperti saat saya ingin punya bisnis properti. Saya belajar dengan menjual kavling. Dari Kavling murah 8 jutaan di Liang Anggang, 50-jutaan di cempaka dan perumahan syariah 180jt di golf.

Makin sering jualan. Sering klosing, secara tidak langsung akan mengasah intuisi bisnis saya secara pribadi. Dan saya sih bilang ke diri sendiri: mustahil dapat memulai bisnis karena hanya ingin gaya-gayaan saja disebut sebagai pengusaha. Seperti apa yang terjadi dulu saat saya memulai bisnis sejak masih kuliah. Tidak mengapa jika baru memulai di usia 30-an. Gak dosa koq kalau jadi karyawan.

Betul opo betul?

Banjarbaru, 22 Februari 2017
Usai diposting di akun Facebook saya: Hendra abtusman

Antara Ragnar, Viking dan Politik

Add Comment
Dalam sejarah bangsa Viking selain bertani dan berdagang, mereka kerap melakukan pelayaran untuk menjarah sebuah desa, kota bahkan sebuah kerajaan. Di awal-awal perjalanan Ragnar Lothbrok berlayar menuju barat, kemenangan selalu didapat lebih cepat. Sehingga sebagian besar aksi penjarahan berubah jadi misi penaklukan.

Namun saat mereka menyerang Paris yang merupakan ibukota kerjaan Frankia. Setidaknya dua serangan awal pimpinan King' Ragnar (sebelumnya dia hanya petani dan kepala suku biasa) berakhir dengan kekalahan. Bahkan, ratusan (atau kabarnya seribu) pejuang Viking gugur dalam pertempuran yang sudah direncanakan secara matang dari segala arah dengan menggunakan peralatan yang dinyana-nyata akan berhasil menjatuhkan Paris.



Menariknya, justru kejatuhan Paris tidak dilakukan dengan peralatan lengkap dan serangan tiba-tiba di tengah malam. Ragnar yang seorang pagan (menyembah Odin, Thor dan Freya) dengan liciknya meminta untuk dibabtis di tengah kondisi sekarat pasca kekalahan telak kedua mereka di kota Paris. Seketika sebelum kematiannya, Ragnar meminta dikuburkan secara Kristen.

Dan benar saja, setelah kematian palsu yang direkayasa bersama anaknya Bjorn, Ragnar berhasil menaklukkan Paris yang memiliki benteng kokoh dan pasukan yang rela menjadi martir di bawah kibaran bendera Oriflame.

Hal ini semakin menasbihkan nama Ragnar Lothbrok sebagai seorang legenda di daratan Skandinavia dan sekitar pesisir Utara Inggris dan Perancis. Bahkan, generasi pasca Ragnar telah berlayar ke kawasan Baltik dan kemudian mendirikan kerajaan Russ (sekarang Russia) sekitar abad ke-11.

***
Cerita di atas Memang ringkasan singkat berdasarkan serial Viking yang saya tonton baru-baru ini. Kabarnya Saga kepahlawanan Legenda Viking Ragnar Lothbrok memang benar-benar menginspirasi serial itu. Tentu, karena ini fiksi, beberapa bumbu drama maupun "realitas" sejarah bisa saja tidak sesuai dengan aslinya.

Biar bagaimanapun juga, apa yang saya lihat di bagian ini (season 3, penaklukan kota Paris) semakin jelas menggambarkan apa yang disebut oleh Machiavelli. Bahwa Politik adalah soal Struggle of Power. Perebutan kekuasaan. Tidak peduli cara apapun yang bisa digunakan, yang terpenting kekuasaan IU bisa berada dalam genggaman.

Jika anda pernah menonton dua sesi sebelumnya, kita akan temukan pula bagaimana Ragnar yang sejatinya hanya petani yang punya mimpi menjarah ke barat berhasil menggulingkan kekuasaan Earl (semacam kepala suku dan penguasa lahan) Herald. Lalu, mengalahkan Jarl Borg yang membantai kampungnya (saat Ragnar menjarah wessex). Kemudian menjadikannya sebagai Raja, setelah upaya makar untuk membiasakan dia dan keluarganya yang direncanakan King Horik gagal total karena kecerdikannya memanipulasi beberapa orang yang sengaja dimasukkan ke dalam barisan Horik.

Dan semakin menarik. Saat membandingkan suhu politik di Indonesia bahkan dunia. Kejadiannya, metodenya hampir semuanya mirip. Yakni menggunakan segala cara agar bisa meraih kekuasaan. Saya tambah lagi dengan adanya era sosial media sekarang. Kata mas Jaya Setiabudi, Aroma Wangi, Busuknya Ketut dan kotoran akan tercium lebih cepat.

Dan you know lah. Kenapa kemudian sebagian orang tidak ingin berpolitik (praktis) bahkan enggan untuk membicarakannya. Dulu saja, ada Kyai yang membuat partai ada yang mencemooh, "harusnya pak Kyai gak usah berpolitik" seolah ini semakin menggambarkan bahwa politik itu kotor. Tadi pagi juga, saat mas Saptuari bicara soal bagaimana kita bisa jadi jurnalis hanya dengan bermodal video dan Facebook live untuk mengungkap kecurangan dalam pilkada. Lalu di kolom komentar ada yang mewanti-wanti, agar mas Saptu fokus saja ke inspirasi, motivasi dan soal anti-riba serta soal bebas utang. Bukan nyerempet-nyerpetin ke politik.

Beberapa kawan menyakini, kalau kita tidak ikut berpolitik, maka politik akan tetap seperti itu. Nampak buruk. Padahal dengan politik, kebaikan bisa tersebar dan membudaya lebih cepat dibanding dengan persuasi individual.

***
Baiklah. Lama-lama lelah juga saya mengetikkan ini. Rehat dulu. Saatnya jualan Rumah di jalan Golf. Dengan konsep sesuai syariah. Kalau ada yang mau, boleh nih hubungi saya di 081250163663

***
Di tengah riuh rendah real count pilkada serentak dan hangatnya isu politik di negeri ini.
Banjarbaru 160117

Abutsman

Nb. Artikel ini sudah saya terbitkan sebelumnya di abutsman.wordpress.Com dan akun Facebook: Hendra Abutsman

Kadar Uji Setiap Hamba

Add Comment
Kadar Uji Setiap Hamba
Pernahkah kita. Siapapun itu. Baik yang menulis atau yang sedang membaca coretan ini. Pernah merasa saat sakit berhari-hari, namun tidak kunjung sembuh juga. Lalu dengan gampangnya kita menyatakan bahwa "demikian beratkah ujian dari Tuhan?"

Saya sendiri. Pernah lebih dari seminggu terserang demam typus. Disebabkan buruknya pola makan, minum dan istirahat sewaktu mahasiswa dahulu. Ditambah kesibukan sebagai ketua panitia acara dakwah di Kalimantan Selatan. Saya yang ketika itu terbaring sendirian di kamar, seolah tidak dipedulikan oleh kawan-kawan satu kost yang sebagain besar pula adalah aktivis lembaga dakwah kampus. Di beberapa hari menjelang kesembuhan, saya seolah mengutuk diri dan merasa waktu yang saya miliki hidup di dunia ini tidaklah lama lagi.

Lalu dengan kemarahan membuncah, saya kecewa dengan rekan-rekan yang tidak juga menjenguk. Saya berpikir, andai saja saya mati saat ini, mungkin mereka akan tahu setelah bau busuk mayat tercium dari satu sudut kamar.

Beruntung. Saat itu, seorang kawan --saat saya menulis cerita ini, yang bersangkutan telah berpulang empat tahun yang lalu-- mengetuk pintu dan menjenguk saya. Ketukan itu tidak akan saya lupakan. Ditambah lagi, dia berikan perhatian dengan memberikan saya madu untuk menambah stamina dan makanan untuk memulihkan kondisi saya yang panas nge-drop.

Rasanya ketika itu. Saya adalah orang paling menderita di dunia.

Hari ini. Saya kembali diingatkan dengan kisah itu, membanding dengan kisah Nabi Ayyub yang disampaikan Ustadz Haji Sulikan, dalam khutbah Jum'at di masjid Hajah Nuriyah Banjarbaru. Materi yang beliau sampaikan benar adanya. Jika saja saya kehilangan motivasi dan harapan kepada Allah, mungkin saja saya telah bergelar almarhum.

Nabi Ayub. Mungkin ceritanya tidak semahsyur cerita Ulil Azmi yang terlalu banyak ceritanya disamoaikan di berbagai podium dan artikel. Saya pernah dapat ceritanya sepintas. Namun yang disampaikan Ustadz Sulikan ini menambahkan arti yang selama ini belum saya dapatkan.

Ada riwayat yang menyebut bahwa sakitnya 18 tahun. 16 tahun, atau 12 tahun. Tapi intinya, sakit kulit yang berada di sekujur tubuh nabi Ayyub (konon kabarnya penyakit lepra) berlangsung lama. Lalu satu persatu orang terdekat dan tetangganya menjauhi dan memboikot beliau. Kecuali dua orang saja yang secara rutin mengunjungi.

Bisa dibayangkan. Dalam posisi seperti ini, sakit berkepanjangan tapi hampir setiap orang tidak peduli bahkan menjauh. Sakitnya itu, ada di hati. Deritanya bukan sekadar fisik, tapi psikis juga. Namun, kata ustadz Sulikan, Nabi Ayyub malah berkata lain dalam kondisi seperti ini. Dirinya teguh untuk terus berharap kepada Allah. Optimis serta husnuzhan dengan keputusan Allah.

Sampai pada satu waktu, Allah menurunkan Wahyu yang menyeru beliau Agar menghempaskan kaki ke tanah. Serta Merta keluarlah air yang bisa digunakan untuk mandi dan sebagai minuman.

Sekonyong-konyong, kemudian sakit beliau musnah dan kondisi fisiknya justru jadi jauh lebih baik dibandingkan sebelum beliau sakit.

Apakah derita kita jauh lebih berat dari beliau? Sampai-sampai begitu marahnya kita kepada Tuhan? Padahal Dia memberikan ujian kepada hamba, pastilah sudah diukur dengan kemampuan untuk menyelesaikannya. Atau, memang barangkali hati kitalah yang telah lebih dahulu berprasangka negatif kepada Allah.

Padahal, Allah pernah bilang dalam hadits Qudsi, "Aku sesuai persangkaan hambaKu".

Teringat lah kita kemudian pada kisah seorang Arab Badui yang dijenguk dan didoakan sakitnya oleh nabi. "Tidak apa-apa, Allah mengurangi dosa dari sakitmu".

Lantas, jawaban si Badui seolah menafikan Rahmah Allah. Meragukan harapan kesembuhan. Sehingga dia bersangka, lebih baik mati saja.

Tidak berapa lama, persangkaan si Badui benar-benar terjadi.

***
Duhai diri. Tidakkah kita malu?

Kita merasa orang termiskin. Tapi pernahkah hidup kita semiskin Isa bin Maryam?

Kita berbangga dengan kekayaan serta pangkat dan kedudukan. Tapi patutlah kita bangga jika membandingkan dengan Sulaiman bin Dawud?

Kita gampang bermaksiat, karena wajah kita rupawan. Namun tidakkah kita ingat cerita Yusuf bin Ya'qub?

Kita merasa perih hidup tak memiliki putra, namun lebih perih manakah jika dibanding lamanya Ibrahim memiliki Ishaq dan Isma'il?

Lupakan kita dengan ribuan puji dan kemuliaan yang dialamatkan ke wajah kita? Sementara Muhammad bin Abdullah pujiannya langsung dari langit.

Sebagian akan mengatakan: "mas Hendra tidak adil! Masa membandingkan manusia biasa dengan nabi?"

Memang benar. Ada perbedaan antara manusia dengan nabi. Walau pada dasarnya tetap nabi juga manusia biasa. "Basyaarun mitslukum..." Manusia sebagaimana kalian (kita, maksudnya). Sehingga, setidaknya. Mereka itu jadi prototype, uswah untuk kita contoh akhlak, pilihan sikap dan ketaatannya kepada Allah.

Dan yang perlu diingat. Ujian setiap orang sudah ditentukan olehNya dalam batas kewajaran dan kemampuan manusia.

Kita tidak diuji menghadapi Fir'aun yang mengaku Tuhan dengan membelah lautan. Sebagaimana tugas (misi) yang diberikan Allah kepada Musa.

Kita tidak menghadapi api yang kemudian didinginkan oleh Allah, karena kadar (valensi) diri kita tidak sekaliber Ibrahim.

Kita diuji. Karena Allah tahu, kita sanggup menghadapinya.

***
Banjarbaru, 10 Februari 2017
Saudaramu,

Hendra Abutsman
Founder & Trainer #SolusiLangit

Headline, the power of words

Add Comment
Saya seringkali merasakan bahwa tidak mudah untuk membuat headline sebuah tulisan. Apalagi headline menarik dan clickable seperti gambar foto koran di bawah. Bahkan, tak jarang mengalami kebuntuan untuk memilih judul dan putuskan memberi judul seadanya.




Menyambung pembahasan soal "selera" pada status sebelumnya. Ternyata judul, headline, feature yang "Menggugah Selera" berpotensi untuk tersebar luasnya sebuah tulisan, artikel opini dan berita. Rekan-rekan wartawan dan blogger senior pastilah sangat mahir meramu dengan cepat kalimat yang pas. Disebabkan pengalaman panjangnya setiap hari membuat berita.

Tadi malam, saat bertemu coach Sukma dan Jaya, salah satu yang mereka ingatkan adalah soal keahlian yang harus terus di asah agar ekspertisi tersebut menjadi bagian dari diri kita dan seolah keluar secara otomatis tanpa perlu effort yang besar.

Bahkan. Hemat saya, saat mereka menyampaikan soal self imaging dan menimbulkan rasa percaya diri, seseorang justru harus mengubah "selera" berpakaian, pergaulan, komunitas, tempat belajar dan bahan bacaan. Dalam hal ini, sensitivitas seorang penulis saat membuat headline itu mendapatkan tuas pengungkit saat dia sudah merubah seleranya. Headline yang dibuatnya bukan lagi persoalan clickable tapi bernilai mahal dan berkelas.

Ada sebuah quote yang saya pikirkan sejak dua malam lalu yang disebut Eko. Quote tersebut rencananya mau saya buat tulisan khusus. Namun, kelengkapan kalimat baru saya temukan tadi malam saat pertemuan dengan Eko, Ovie, Haji Roem, Suma dan Jaya. Ternyata, eh ternyata. Quote itu sumbernya bukan dari Eko. Melainkan dari Zocky yang merapakan rekan kerja Jaya dan Sukma yang diboyong ke mana-mana

"Polos di Permukaan, licin (liar) di kedalaman" -Zocky-

Ini quote -meminjam Istilah yang dipakai Ayi- betul-betul "Mind Blowing". Cetar membahana. Dimulai dari pembicaraan sederhana, namun sarat makna.

Kalimat seperti ini, lebih dikarenakan bisa muncul karena selera gaul Zocky bersama Jaya dan Sukma saat mereka "kerja" jalan-jalan.

Dan benar saja. Ternyata, merubah Selera Pergaulan, Bahan Bacaan serta ragam konsumsi pikiran lain, secara tidak sadar amat mempengaruhi apa yang kita keluarkan berupa kata dan perilaku.

Coba saja tengok akun media sosial kawan kita yang sedikit-sedikit dakwah. Gemar menulis essai, jualan setiap posting, atau rekan yang gemar sekali membagikan berita bombastis dan hoax, konsumsi rerata hariannya tidak jauh dari itu. Seolah cepat sekali "terangsang" untuk melakukan hal yang serupa.

****
Oiya. Sebagai catatan. Judul headline seperti koran yang saya upload ini tidak bohong. Tapi kami sering sebut "keseleo". Karena konotasi yang dibentuk kepada pembaca jauh berbeda dengan apa yang sebenarnya di dalam isi berita.

Seperti kami dulu pernah membuat bahasa iklan "PANJANG, KUAT dan TAHAN LAMA" untuk bahasa iklan di kavling BCL 3. Dan benar saja, iklan itu melahirkan konotasi yang tidak mengenakkan bagi saya karena tidak orang yang langsung "terangsang" menanyakan soal obat kuat, bahkan ada seorang yang mengaku janda minta untuk dilayani dan dinikahi. Tidak tanggung-tanggung, bahkan dia rela membayar.

Ampun! Ampuun.... jika nanti ada iklan baris di koran dengan headline begitu lagi. Saya tidak bersedia nomer hotlinenya itu adalah nomer yang saya pegang. Khawatir, liar di kedalaman diri ini muncul ke permukaan. Wkwkwkwk.

***
Karena takut terlalu panjang. Mungkin tulisan ini akan bersambung lagi. Masih soal selera. Hubungan selera dengan target market. Soal selera gaul dengan tema pembicaraan, dan lain-lain.

By the way... Jika ada yang mengasosiasikan foto pertama dan kedua itu berkaitan erat. Saya tegaskan, kedua foto itu TIDAK ADA HUBUNGANNYA sama sekali.

Banjarbaru,
030217
Masih kedinginan

Hendra Abutsman

Labels

Catatan (77) Inspirasi (33) Marketing (17) Opini (17) bisnis (16) Kritik (14) Puisi (10) Kuliner (9) Teknologi (9) Properti (6) Download (4) Resensi (4)